Pantai Digunung kidul

Pantai Baron, pantai paling populer di Gunungkidul, karena pantai ini adalah pantai pertama yang akan ditemui jika mengunjungi sederetan keindahan pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Di Pantai tersebut kita tidak bisa untuk berenang seenaknya, karena ombak yang cukup besar. Para pengunjung masih dapat berenang di pantai ini sampai batas yang diperkenankan, ditandai dengan rentangan kawat yang dibentangkan di atas teluk.

Teluk yang ada di pantai Baron merupakan teluk yang diapit oleh dinding bukit yang hijau, dipenuhi oleh pohon kelapa. Teluk ini juga merupakan muara dari aliran sungai di bawah batu karang, yang airnya cukup jernih. Pantai Baron merupakan pantai pertemuan antara air laut dan air tawar, merupakan hasil dari sungai yang bermuara di satu sudut pantai baron, melambangkan berpadunya dua hati meski dengan perbedaan latar belakang. Di pantai ini juga terdapat muara sungai bawah tanah yang bisa digunakan untuk pemandian setelah bermain di laut. Pantai Baron juga dikenal sebagai tempat pendaratan nelayan sehingga menu ikan segar menjadi favorit pengunjung di pantai ini. Restoran ikan tersebar di berbagai penjuru pantai dengan menu-menu yang lezat. Hidangan ikan laut segar tersebut dapat Anda nikmati dengan harga yang terjangkau. Anda juga dapat bersantai di keteduhan pohon-pohon kelapa di pinggir pantai bersama keluarga dan teman-teman. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati aneka ikan laut segar maupun siap saji, dengan harga terjangkau, termasuk menu khas pantai Baron yaitu Sop Kakap.

Salah satu bentuk upacara labuhan pantai selatan yang terkenal adalah labuhan di Pantai Baron. Upacara tradisional tersebut diberi nama upacara Labuhan. Istilah Labuhan berasal dari kata labuh yang menurut kamus umum Indonesia berarti membuang atau mencampakan ke air. Arti ini hampir sama dengan kata labuh dalam bahasa Jawa yang berarti ngudunake. Kaitannya dengan labuhan di Pantai Baron, Upacara Labuhan berarti memberi sesaji kepada penguasa Laut Selatan, yang menurut kepercayaan, penguasa Laut Selatan tersebut adalah Kanjeng Ratu Kidul. Setiap upacara tradisional labuhan dilaksanakan, maka banyak pendatang dari daerah lain ikut menjadi pendukung upacara tersebut. Sebagian di antara mereka mempunyai kepentingan atau hajat tertentu, dan sebagian yang lain membayar nazar atau sebagai sarana mengucapkan terima kasih atas terkabulnya hajat mereka. Menurut tradisi, malam hari sebelum dilaksanakan upacara tradisional Labuhan, maka terlebih dulu dilaksanakan malam tirakatan. Para peserta tirakatan yang dipimpin oleh sesepuh penanggung jawab upacara, mengadakan ritual semalam suntuk tidak tidur disertai memanjatkkan do’a, memeohon kepada yang maha kuasa agar upacara labuhan yang akan dilaksanakan esok sorenya berjalan lancar dan tidak ada hala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: