Ritual Dipantai Parangtritis

Di kawasan ini wisatawan dapat berkeliling pantai menggunakan bendi dan kuda yang disewakan dan dikemudikan oleh penduduk setempat. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta. Menjelang sore kita dapat menikmati suasana matahari terbenam (sunset) dan pada malam menjelang, kedai-kedai bambu para penjaja makanan disekitar pantai mulai berjualan.

Kita dapat menikmati hangatnya wedang jahe dan jagung bakar dikeheningan malam pantai parangtritis. Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro Kidul juga dengan sendirinya melahirkan pesona tersendiri. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, diamna para nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit.

Penamaan Parangtritis memiliki sebuah cerita sejarah tersendiri. Konon, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beratus-ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (=batu) dan tumaritis (=tetesan air). Sehingga, pantai tersebut diberi nama dengan sebutan Parangtritis. Pantai Parangtritis merupakan pantai yang penuh mitos, diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan. Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian. Labuhan yang merupakan tradisi tahunan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat digelar dalam waktu setahun sekali. Surakso yang juga merupakan juru kunci atau sesepuh di wilayah Parangtritis mengatakan, labuhan merupakan tradisi yang digelar tiap tahun dan delapan tahunan (sewindu) dalam penanggalan Jawa. Labuhan delapan tahunan digelar dengan melabuh sejumlah pakaian milik Sri Sultan Hamengku Buwono, berupa jarik dan kemben yang ditaruh di atas empat ancak (tempat sesaji terbuat dari bambu ukuran satu meter persegi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: